BENTUK-BENTUK KRITIK KEMISKINAN DALAM NOVEL “NAK, MAAFKAN IBU TAK MAMPU MENYEKOLAHKANMU” KARYA WIWID PRASETYO

Abstrak: Pengarang tampil sebagai pembela kebenaran dan keadilan. Ia tidak akan tinggal diam dan lewat karyanya, ia akan memperjuangkan hal-hal yang diyakini kebenarannya. Novel Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu merupakan salah satu karya Wiwid Prasetyo yang diterbitkan oleh Diva Press tahun 2010. Novel ini mengisahkan perjuangan ibu dan anaknya dalam menghadapi berbagai permasalahan kehidupan orang miskin di pinggiran kota yang tersisihkan dan semakin menderita karena alam yang tercemar oleh limbah hasil konpirasi pejabat dan pengusaha. Rumusan masalah penelitian ini: Bagaimanakah bentuk kritik kemiskinan dalam novel Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu karya Wiwid Prasetyo? Tujuan penelitian: mendeskripsikan kritik kemiskinan; 1) bentuk kritik kemiskinan natural, dan (2) bentuk kritik kemiskinan struktural. Metode penelitian ini bersifat kualitatif, yaitu menggambarkan atau melukiskan fakta-fakta secara sistematis tentang bentuk kritik kemiskinan dalam novel. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, teknik analisis data dilakukan dengan cara; (1) Identifikasi data, (2) Klasifikasi data, (3) Interpretasi data, (4) Deskripsi data bentuk kritik kemiskinan dalam novel. Hasil penelitian : (1) bentuk kritik kemiskinan natural merupakan kemiskinan yang disebabkan karena SDA dan SDM yang tidak memungkinkan suatu masyarakat untuk lepas dari jerat kemiskinan, hal tersebut nampak pada keluarga Wak Bajo dan masyarakat Rata totok yang menderita kemiskinan karena faktor alam dan sumber daya manusia mereka yang lemah, (2) bentuk kritik kemiskinan struktural yang disebabkan campur tangan manusia yang membuat masyarakat lain menjadi miskin. Hal tersebut nampak pada novel yang menunjukkan masyarakat yang menjadi miskin disebabkan pencemaran lingkungan oleh PT Newmont dan ketidak pedulian masyarakat lain terhadap orang-orang miskin.

Kata Kunci: Kritik, Natural, Stuktural, Kemiskinan, Novel

Artikel Lengkap disini

Peer Review Laili Amalia

Peer Review LAILI AMALIA

Sastra Madura Terputus dengan Generasinya

“Sastra Madura telah mati, sebab sastra ini tak lagi mempunyai majalah BM (Berbahasa Madura-pen.) Buku-buku Berbahasa Madura pun tak laku jual. Dan, sastra Madura tak lagi mempunyai kader-kader penulis muda, sebab yang muda-muda umumnya menulis dalam bahasa Indonesia.” demikian kata Suripan Sadihutomo (Kompas, 2 September 2002). Suatu hal yang wajar dan tidak dapat dipungkiri lagi serta mau tidak mau kita harus mengakui, bahwa dalam kehidupan sehari-hari sering terlontar perkataan yang mengatakan bahwa sastra Madura telah mati, sastra Madura ambruk total, sastra Madura hanya tidur panjang, sastra Madura mulai loyo, sastra Madura kehilangan roh, dan sebagainya. Mengapa? Mengenai masalah tersebut Ghazali (2000:2) mengatakan bahwa bahasa daerah yang ada di Indonesia pada umumnya mengalami tekanan, baik secara internal maupun eksternal. Dosen Universitas Negeri Malang asal Pamekasan tersebut menambahkan bahwa salah satu penyebabnya adalah adanya kebijakan pemerintah, yang meletakkan bahasa daerah, sastra daerah, serta seni budaya daerah dalam posisi terjepit, sehingga beberapa bahasa daerah dan begitu pula sastranya semakin berkurang penuturnya dan akhirnya, mati dan sebagian lagi terus tumbuh dan berkembang dengan kondisi yang memprihatinkan.

SASTRA MADURA

Page 1 of 212»