Kembali ke Berita
Menembus Batas Ruang Kelas: Menakar Masa Depan Pendidikan Matematika di Era Logika Digital

Menembus Batas Ruang Kelas: Menakar Masa Depan Pendidikan Matematika di Era Logika Digital

20 Mei 2026 Dr. HARSONO, M.Pd. 0 dibaca

PAMEKASAN, fkipmedia – Anggapan lama bahwa matematika sekadar rumus hafalan yang jauh dari realitas kehidupan kian tidak relevan di tengah gelombang otomatisasi global. Memasuki era Society 5.0, disiplin ilmu ini justru bertransformasi menjadi arsitektur utama di balik kecerdasan buatan dan analisis data raksasa.

Guna memetakan ulang arah pedagogi tersebut, Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Madura (Unira) menyelenggarakan Kuliah Tamu Internasional (International Guest Lecture) pada Rabu (20/5/2026).

Forum yang mempertemukan ratusan akademisi di Aula Laboratorium Bersama Lantai 3 Kampus Unira ini mengupas tuntas tema bertajuk "Digital Mathematics for Society 5.0". Demi membedah tantangan ini secara komprehensif, Unira menggandeng pakar dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM).

Logika Analitis sebagai Benteng Zaman

Dalam orasi pembukaannya, Dekan FKIP Universitas Madura, Dr. Moh. Zayyadi, M.Pd., mengingatkan pentingnya perubahan radikal dalam cara memandang matematika di perguruan tinggi. Lulusan pendidikan matematika tidak boleh lagi dipersiapkan hanya untuk mentransfer rumus kaku ke papan tulis.

"Dunia bergerak ke arah digitalisasi yang masif, dan matematika berada di jantung peradaban baru ini. Melalui kuliah tamu internasional ini, FKIP Unira berkomitmen memutus mata rantai pembelajaran konvensional. Penguasaan matematika digital dengan daya analisis tingkat tinggi adalah modal mutlak bagi mahasiswa agar mampu menjadi penggerak, bukan sekadar penonton di era Society 5.0," papar Dr. Moh. Zayyadi.

Ia menggarisbawahi bahwa kehadiran Prof. Dr. Noraffandy Bin Yahaya dari UTM menjadi momentum strategis. "Kemitraan internasional dengan UTM ini dirancang untuk membuka wawasan global civitas akademika kita. Kami ingin memicu lahirnya riset-riset mutakhir yang mampu menyelesaikan persoalan riil di masyarakat melalui pendekatan matematis."

Membumikan Matematika lewat Ruang Siber

Sebagai pembicara utama, Prof. Dr. Noraffandy Bin Yahaya memaparkan visi baru mengenai matematika digital. Ia menyoroti fenomena di mana banyak institusi pendidikan terjebak membeli perangkat teknologi canggih, namun gagal membangun cara berpikir komputasional pada manusianya.

Menurut Prof. Noraffandy, matematika digital dalam konteks Society 5.0 adalah kemampuan mengonstruksi pemecahan masalah di dunia nyata menggunakan pemodelan matematis berbasis teknologi.

"Teknologi tercanggih sekalipun tidak akan berfungsi tanpa adanya algoritma, dan algoritma lahir dari matematika. Oleh karena itu, matematika digital bertugas mendidik masyarakat agar memiliki kemampuan berpikir kritis dan komputasional (computational thinking). Kita ingin mencetak problem solver, bukan robot pembuat tabel," urai pakar dari Malaysia tersebut.

Pandangan ini diperkuat oleh Dr. Moh. Zayyadi. Di akhir sesinya, ia menambahkan bahwa secanggih apa pun otomatisasi digital, penalaran logis manusia tetap memegang kendali penuh. "Di era kecerdasan buatan ini, misi utama kita adalah memastikan etika, nilai kemanusiaan, serta ketajaman logika berpikir yang runtut tetap menjadi nakhoda utama pendidikan."

Rencana Kolaborasi

Menolak berhenti sebagai agenda seremonial, pasca-kuliah tamu ini FKIP Universitas Madura dan Universiti Teknologi Malaysia langsung menyusun langkah taktis jangka panjang. Kedua institusi sepakat menandatangani komitmen kerja sama akademik yang lebih riil.

Tindak lanjut tersebut difokuskan pada dua sektor utama: kolaborasi riset internasional di bidang pengembangan modul computational thinking, serta proyek bersama dalam merancang media pembelajaran matematika berbasis digital. Produk akademis ini nantinya ditargetkan dapat langsung diujicobakan dan diterapkan pada sekolah-sekolah mitra di wilayah Madura guna mempercepat kesiapan literasi numerasi digital di tingkat akar rumput. (HRS)