Sastra Madura Terputus dengan Generasinya

“Sastra Madura telah mati, sebab sastra ini tak lagi mempunyai majalah BM (Berbahasa Madura-pen.) Buku-buku Berbahasa Madura pun tak laku jual. Dan, sastra Madura tak lagi mempunyai kader-kader penulis muda, sebab yang muda-muda umumnya menulis dalam bahasa Indonesia.” demikian kata Suripan Sadihutomo (Kompas, 2 September 2002). Suatu hal yang wajar dan tidak dapat dipungkiri lagi serta mau tidak mau kita harus mengakui, bahwa dalam kehidupan sehari-hari sering terlontar perkataan yang mengatakan bahwa sastra Madura telah mati, sastra Madura ambruk total, sastra Madura hanya tidur panjang, sastra Madura mulai loyo, sastra Madura kehilangan roh, dan sebagainya. Mengapa? Mengenai masalah tersebut Ghazali (2000:2) mengatakan bahwa bahasa daerah yang ada di Indonesia pada umumnya mengalami tekanan, baik secara internal maupun eksternal. Dosen Universitas Negeri Malang asal Pamekasan tersebut menambahkan bahwa salah satu penyebabnya adalah adanya kebijakan pemerintah, yang meletakkan bahasa daerah, sastra daerah, serta seni budaya daerah dalam posisi terjepit, sehingga beberapa bahasa daerah dan begitu pula sastranya semakin berkurang penuturnya dan akhirnya, mati dan sebagian lagi terus tumbuh dan berkembang dengan kondisi yang memprihatinkan.

SASTRA MADURA

Prosiding Nasional_Hendry Budiman

Prosiding Nasional_Hendry Budiman

Prosiding Internasional_Hendry Budiman

Prosiding Internasional_Hendry Budiman

Page 1 of 59123456»102030...Last »